Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan

Undur-undur Itu Bisa Terbang

1
Undur-undur (Famili Myrmeleontidae)
Undur-undur (Famili Myrmeleontidae)

Undur-undur memiliki nama latin Myrmeleon formicarius. Kata Myrmeleon berasal dari dua kata bahasa Latin, yaitu mymex yang berarti semut dan leon yang berarti singa. Nama itu diberikan karena perilaku Undur-undur yang memburu mangsanya (khususnya semut) secara ganas dengan cara menggali jebakan di pasir, sehingga dianggap sebagai "singanya para semut". Sehingga dalam bahasa Inggris Undur-undur disebut dengan nama Antlion (semut singa).

Sedangkan nama lokalnya adalah Undur-undur. Nama Undur-undur diberikan pada hewan ini karena perilaku berjalan mundur saat membuat sarang sekaligus jebakan di pasir. Perilaku berjalan mundur pada Undur-undur tidak hanya saat membuat sarang dan jebakan saja, perilaku berjaan mundur ini juga berfungsi untuk melindungi dari serangan musuh serta memudahkan dalam menangkap mangsa.

Klasifikasi

Kingdom: Animalia
Filum: Arthropoda
Subfilum: Hexapoda
Kelas: Insecta
Subkelas: Pterygota
Infrakelas: Neoptera
Ordo: Neuroptera
Famili: Myrmeleontidae
Genus: Myrmeleon
Species: Myrmeleon formicarius

Anatomi

Undur-undur memiliki bentuk abdomen (perut) yang membulat, memiliki 3 pasang kaki, memiliki sepasang rahang panjang seperti capit, dan memiliki mulut tipe penggigit. Undur-undur hanya memiliki panjang beberapa milimeter saja.
Undur-undur (Myrmeleon formicarius)
Anatomi tubuh Undur-undur (Myrmeleon formicarius) tampak atas, tampak bawah, tampak samping

Fisiologi

Undur-undur tidak memiliki anus sehingga zat-zat sisa metabolisme akan disimpan dalam tubuh dan baru dikeluarkan ketika Undur-undur memasuki tahap Imago (dewasa).

Habitat

Undur-undur hidup di dalam tanah berpasir halus yang terlindung dari cahaya matahari langsung. Keberadaan Undur-undur dapat diketahui dari banyaknya lubang yang mereka buat sebagai sarang mereka.
Undur-undur (Myrmeleon formicarius)
Sarang Jebakan Undur-undur (Myrmeleon formicarius)

Makanan

Makanan Undur-undur adalah serangga-serangga kecil, terutama semut, yang terjebak dalam sarang jebakan yang dibuat. Undur-undur memakan mangsanya dengan cara menghisap cairan tubuh dari mangsanya dengan sepasang rahang yang berbentuk seperti capit, sementara bagian tubuhnya tidak dimakan.

Bisa Terbang

Undur-undur yang sering kita jumpai di sarang jebakan pasirnya itu bisa terbang. Secara anatomi tubuhnya, Undur-undur memang tidak bisa terbang. Tetapi, Undur-undur yang sering kita lihat itu adalah bentuk larvanya dan bisa bermetamorfosis secara sempurna, yang berarti dalam perkembangannya, Undur-undur mengalami perubahan bentuk fisik. Bentuk dewasa (imago) dari Undur-undur ini memiliki sayap dan bisa terbang. Tetapi, Undur-undur dewasa tidak bisa terbang cepat dan lincah karena pada dasarnya merupakan penerbang lemah.
Undur-undur dewasa (Myrmeleon formicarius)
Undur-undur dewasa (Myrmeleon formicarius)

Daur Hidup

Undur-undur adalah hewan Holometabola. Holometabola adalah serangga yang mengalami metamorfosis sempurna. Karena Undur-undur mengalami metamorfosis sempurna, maka Undur-undur memiliki empat tahap perkembangan, yaitu: telur, larva, pupa (kepompong), dan imago (dewasa). 
Undur-undur (Famili Myrmeleontidae)
Siklus Hidup Undur-undur (Famili Myrmeleontidae)

Telur
Telur Undur-undur umumnya diletakkan oleh induk di tanah berpasir halus atau berdebu. Tetapi, beberapa spesies Undur-undur bertelur di dedaun. Masa inkubasi telur Undur-undur ini sekitar 5 hari. Telur akan menetas dan berkembang menjadi larva yang sering kita lihat membuat sarang sekaligus jebakan di pasir.

Larva
Undur-undur menghabiskan hampir seluruh hidupnya sebagai larva. Tahap larva berlangsung antara 1 hingga 3 tahun.

Pada tahap larva, Undur-undur membuat jebakan di tanah dengan cara bergerak mundur memakai tubuhnya seperti mata bor dan mulai menggali dengan gerakan spiral hingga akhirnya membentuk sarang jebakannya yang berbentuk seperti corong.

Undur-undur berburu secara pasif dengan cara menunggu serangga lain, seperti semut, jatuh ke dalam sarang jebakannya. Bila ada mangsa terjebak masuk ke dalam perangkapnya namun masih bisa bergerak naik, larva undur-undur akan melempari mangsanya dengan butiran pasir agar tergelincir dan masuk dalam sarangnya. Larva undur-undur mengetahui kehadiran korbannya dengan cara merasakan getaran dari gerakan korbannya.

Undur-undur hanya akan menghisap cairan dari tubuh mangsanya dan membuang sisanya.

Pupa
Pupa disebut juga tahap kepompong. Undur-undur akan mengumpulkan butiran-butiran pasir dan dilekatkan dengan kelenjar yang berasal dari abdomennya (perutnya). Kepompong Undur-undur biasanya terkubur hingga beberapa sentimeter di dalam tanah. Pada tahap ini, Undur-undur tidak melakukan aktivitas, pada saat itu juga terjadi penyempurnaan dan pembentukan organ. Pupa atau kemompong Undur-undur berbentuk bola.

Tahap Pupa ini biasanya berlangsung sekitar 20 hari hingga 25 hari, terkadang bisa sampai 1 bulan.
Pupa Undur-undur (Myrmeleon formicarius)
Pupa Undur-undur (Myrmeleon formicarius)

Imago
Imago adalah tahap dewasa dimana Undur-undur sudah memiliki bentuk fisik yang sempurna setelah melewati metamorfosis.

Undur-undur dewasa memiliki penampilan fisik yang mirip dengan capung karena sama-sama memiliki abdomen panjang dan memiliki dua pasang sayap transparan berjala pada thoraxnya. Perbedaan yang paling mencolok antara Undur-undur dewasa dan capung adalah antenanya. Antena Undur-undur dewasa terlihat panjang dengan ujung sedikit melengkung.

Undur-undur dewasa lebih aktif saat malam hari (nokturnal). Makanan Undur-undur dewasa adalah nektar.

Tahap Imago adalah tahap reproduktif bagi Undur-undur. Undur-undur dewasa melakukan kopulasi dengan cara saling melekatkan ujung abdomennya. Undur-undur dewasa bisa melakukan kopulasi (kawin) hingga 2 jam. Setelah kopulasi, Undur-undur dewasa betina akan pergi mencari tempat untuk bertelur dan terkadang kembali ke tempat yang sama untuk kembali kawin.

Tahap Imago dari Undur-undur berlangsung antara 1 bulan hingga 45 hari.



Referensi:
Ade Arisandi. 2011. Siklus Hidup Undur Undur. diakses tanggal 6 September 2019. link: https://adearisandi.wordpress.com/2011/04/13/siklus-hidup-undur-undur/

Davide Badano. 2012. The Larvae of European Myrmeleontidae and Ascalaphidae (Neuroptera). Thesis. Tidak Diterbitkan. Scuola Di Dottorato Di Ricerca, Scienze e Biotecnologie dei Sistemi Agrari e Forestali e delle Produzioni Alimentari. Università Degli Studi Di Sassari: Italia.

Dharmawan, Agus. 2005. Ekologi Hewan. Malang: UM Press

Free Nature Images: http://www.freenatureimages.eu/Animals/Neuroptera%2C%20Netvleugeligen%2C%20Lacewings/Myrmeleon%20formicarius/index.html

Kawruh. 2008. Kehidupan Undur-undur. Bandung: PT. Gramedia Pustaka Utama

Kristanto. 2008. Hewan Darat. Surabaya: PT. Sentral Pujo

Noorchasanah Anastasia Wulandari. 2016. Masa Kecilmu Suka Main Undur-undur? Ternyata Hewan Mungil Ini Bisa Terbang dan Memiliki Khasiat. diakses tanggal 6 September 2019. link: https://solo.tribunnews.com/2016/06/01/masa-kecilmu-suka-main-undur-undur-ternyata-hewan-mungil-ini-bisa-terbang-dan-memiliki-khasiat?page=all.

Wikipedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Undur-undur

DNA Rekombinan dan Teknik-teknik yang Digunakan di Dalamnya

0
DNA Rekombinan dan Teknik-teknik yang Digunakan di Dalamnya
DNA Rekombinan dan Teknik-teknik yang Digunakan di Dalamnya

Sejak tahun 1970-an berkembang suatu teknologi yang dapat diterapkan sebagai pendekatan dalam mengatasi masalah melalui isolasi dan manipulasi terhadap gen yang bertanggung jawab atas ekspresi protein tertentu atau pembentukan suatu produk. Teknologi ini dikenal sebagai teknologi DNA rekombinan atau juga bisa disebut rekayasa genetika.

ini melibatkan upaya perbanyakan gen tertentu di dalam suatu sel yang bukan sel alaminya sehingga sering pula dikatakan sebagai kloning gen. Banyak definisi telah diberikan untuk mendeskripsikan pengertian teknologi DNA rekombinan. Salah satu di antaranya, yang mungkin paling representatif, menyebutkan bahwa teknologi DNA rekombinan adalah pembentukan kombinasi materi genetik yang baru dengan cara penyisipan molekul DNA ke dalam suatu vektor sehingga memungkinkannya untuk terintegrasi dan mengalami perbanyakan di dalam suatu sel organisme lain yang berperan sebagai sel inang.

Dengan kata lain teknologi DNA rekombinan memungkinkan bagi kita untuk mengisolasi DNA dari berbagai organisme, menggabungkan DNA yang berasal dari organisme yang berbeda sehingga terbentuk DNA rekombinan, memasukkan DNA rekombinan ke dalam sel organisme prokariot maupun eukariot hingga DNA rekombinan dapat berepilkasi dan bahkan dapat diekspresikan. Jadi, Teknologi DNA Rekombinan merupakan kumpulan teknik atau metoda yang digunakan untuk mengkombinasikan gen-gen di dalam tabung reaksi. Teknik-teknik tersebut meliputi: Teknik untuk mengisolasi DNA, Teknik untuk memotong DNA, Teknik untuk menggabung atau menyambung DNA, dan Teknik untuk memasukkan DNA ke dalam sel hidup.

Penerapan Bioteknologi dalam Bidang Peternakan

0
Selama kurang lebih empat dasawarsa terakhir, kita melihat begitu pesat perkembangan bioteknologi di berbagai bidang. Pesatnya perkembangan bioteknologi ini sejalan dengan tingkat kebutuhan manusia dimuka bumi. Hal ini dapat dipahami mengingat bioteknologi menjanjikan suatu revolusi pada hampir semua aspek kehidupan manusia, mulai dari bidang pertanian, peternakan dan perikanan hingga kesehatan dan pengobatan.

Di bidang peternakan dan perikanan, teknologi transgenik merupakan salah satu alternatif upaya peningkatan produksi untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat. Beberapa contoh penerapan bioteknologi dalam bidang peternakan, yaitu: Kloning, Inseminasi Buatan, Penggunaan Enzim Fitase, dan Transgenik Mikroinjeksi.

Keberhasilan Kloning pada Berbagai Spesies Hewan

0
Kloning merupakan salah satu bioteknologi mutakhir  yang sangat bermanfaat untuk memultiplikasi genotip hewan yang memiliki keunggulan tertentu dan preservasi hewan yang hampir punah. Walaupun keberhasilan produksi hewan kloning  lewat transfer inti sel somatik telah dicapai pada berbagai spesies, seperti Domba, Sapi, Mencit, Kambing, Babi, Kucing, dan Kelinci, efisiensinya sampai sekarang masih sangat rendah yaitu kurang dari 1%, dengan sekitar 10% yang lahir hidup (Han et al., 2003).

Transfer inti melibatkan suatu seri prosedur yang kompleks termasuk kultur sel donor, maturasi oosit in vitro,  enukleasi, injeksi sel atau inti, fusi, aktivasi, kultur in vitro reconstructed embryo, dan  transfer embrio. Jika salah satu dari tahap-tahap ini kurang optimal, produksi embrio atau  hewan kloning dapat terpengaruh.

Sejarah tentang hewan kloning telah muncul sejak awal tahun 1900, tetapi contoh  hewan kloning baru dapat dihasilkan lewat  penelitian Wilmut et al. (1997), dan untuk  pertama kali membuktikan bahwa kloning dapat dilakukan pada hewan mamalia dewasa. Hewan kloning tersebut dihasilkan dari inti sel epitel ambing Domba dewasa yang dikultur  dalam suatu medium, kemudian ditransfer ke dalam ovum Domba yang kromosomnya telah  dikeluarkan, yang pada akhirnya menghasilkan anak Domba kloning yang diberi nama Dolly.

Enzim Fitase dan Penggunaannya dalam Peternakan

0
Enzim Fitase dan Penggunaannya dalam Peternakan
Enzim Fitase dan Penggunaannya dalam Peternakan


Fitase adalah kelompok enzim fosfatase yang dapat memutus ikatan pada gugus orotfosfat pada rantai inositol senyawa fitat (bentuk utama senyawa fosfor di dalam tanaman). Berbagai jenis fitase telah berhasil diisolasi dari tanaman dan bakteri. Enzim-enzim ini kemudian dapat dikelopokkan berdasarkan pH optimumnya (asam dan basa), mekanisme katalitiknya (asam histidin fosfatase, beta-propeller fitase dan sistein fosfatase), berdasarkan stereospesifitasnya.

Fitase aktif asal mikroba banyak ditemukan pada spesies fungi dan aspergillus. Shieh dan Ware (1968), menyatakan bahwa hasil penyaringan pada isolat tanah terdapat lebih dari 2000 mikroorganisme yang mampu menghasilkan enzim fitase. Dari isolat tersebut kebanyakan memproduksi fitase intraselluler. Sedangkan 30 isolat adalah fitase ekstraselluler.Fitase terdapat di dalam tumbuh-tumbuhan, mikroorganisme dan jaringan tubuh ternak. The Enzym Nomenclature of The International Union of Biochemistry” menggolongkan fitase ke dalam dua tipe. Klasifikasi tersebut adalah 6 - fitase (EC 3.1.3.26) dan fitase 3 - fitase (EC 3.1.3.8). Fitase dalam saluran pencernaan berasal dari : 1). Fitase usus yang terdapat dalam saluran pencernaan, 2) fitase asal tumbuhan dan 3) fitase asal mikroba.

Aksiologi dan Penerapannya dalam Pendidikan

0
Aksiologi dan Penerapannya dalam Pendidikan
Aksiologi dan Penerapannya dalam Pendidikan


Aksiologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu axios dan logos. Kata axios berarti nilai sedangkan logos berarti teori atau ilmu. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai. Aksiologi bisa juga disebut sebagai the theory of value atau teori nilai. Menurut Kamus Bahasa Indonesia aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai khususnya etika.


Aksiologi Sains

Kegunaan Pengetahuan Sains
Secara umum teori berarti pendapat yang beralasan, sekurang-kurangnya kegunaan teori Sains ada tiga yaitu sebagai alat membuat eksplanasi, menurut teori Sain anak-anak yang orang tuanya cerai, pada umumnya akan berkembang menjadi anak nakal, penyebabnya ialah karena anak-anak itu tidak mendapat pendidikan yang baik dari kedua orang tuanya; sebagai alat peramal, saat membuat eksplanasi, biasanya ilmuwan telah mengatahui juga faktor penyebab terjadinya gejala itu, dengan “mengutak-atik” faktor penyebab itu, ilmuwan dapat membuat ramalan atau prediksi; sebagai alat pengontrol.

Cara Sains Menyelesaikan Masalah
Adapun caranya adalah mengidentifikasi masalah, mencari penyebab terjadinya masalah tersebut, mencari cara untuk memperbaiki masalah

Netralitas Sains
Artinya sain tidak memihak pada kebaikan dan juga tidak memihak pada kejahatan.

Aksiologi dan Pendidikan

Hubungan Antara Aksiologi dengan Pendidikan
Aksiologi mempelajari mengenai manfaat apa yang diperoleh dari ilmu pengetahuan,menyelidiki hakikat nilai,serta berisi mengenai etika dan estetika.Penerapan aksiologi dalam pendidikan misalnya saja adalah dengan adanya mata pelajaran ilmu sosial dan kewarganegaraan yang mengajarkan bagaimanakah etika atau sikap yang baik itu,selain itu adalah mata pelajaran kesenian yang mengajarkan mengenai estetika atau keindahan dari sebuah karya manusia.  Dasar Aksiologis Pendidikan adalah Kemanfaatan teori pendidikan tidak hanya perlu sebagai ilmu yang otonom tetapi juga diperlukan untuk memberikan dasar yang sebaik-baiknya bagi pendidikan sebagai proses pembudayaan manusia secara beradab.

Aksiologi Filsafat Pendidikan
Secara historis, istilah yang lebih umum dipakai adalah etika (ethics) atau moral (morals). Tetapi dewasa ini, istilah axios (nilai) dan logos (teori) lebih akrab dipakai dalam dialog filosofis. Jadi, aksiologi bisa disebut sebagai the theory of value atau teori nilai. Bagian dari filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan buruk (good and bad), benar dan salah (right and wrong), serta tentang cara dan tujuan (means and ends).

Aksiologi mencoba merumuskan suatu teori yang konsisten untuk perilaku etis. Ia bertanya seperti apa itu baik (what is good?). Tatkala yang baik teridentifikasi, maka memungkinkan seseorang untuk berbicara tentang moralitas, yakni memakai kata-kata atau konsep-konsep semacam “seharusnya” atau “sepatutnya” (ought/should). Demikianlah aksiologi terdiri dari analisis tentang kepercayaan, keputusan, dan konsep-konsep moral dalam rangka menciptakan atau menemukan suatu teori nilai.

Terdapat dua kategori dasar aksiologis; 1) objectivism dan 2) subjectivism. Keduanya beranjak dari pertanyaan yang sama: apakah nilai itu bersifat bergantung atau tidak bergantung pada manusia (dependent upon or independent of mankind)? Dari sini muncul empat pendekatan etika, dua yang pertama beraliran obyektivis, sedangkan dua berikutnya beraliran subyektivis.

Pertama, teori nilai intuitif (the initiative theory of value). Teori ini berpandangan bahwa sukar jika tidak bisa dikatakan mustahil untuk mendefinisikan suatu perangkat nilai yang bersifat ultim atau absolut. Bagaimanapun juga suatu perangkat nilai yang ultim atau absolut itu eksis dalam tatanan yang bersifat obyektif.

Nilai ditemukan melalui intuisi karena ada tata moral yang bersifat baku. Mereka menegaskan bahwa nilai eksis sebagai piranti obyek atau menyatu dalam hubungan antarobyek, dan validitas dari nilai obyektif ini tidak bergantung pada eksistensi atau perilaku manusia. Sekali seseorang menemukan dan mengakui nilai tersebut melalui proses intuitif, ia berkewajiban untuk mengatur perilaku individual atau sosialnya selaras dengan preskripsi-preskripsi moralnya.

Kedua, teori nilai rasional (the rational theory of value). Bagi mereka janganlah percaya pada nilai yang bersifat obyektif dan murni independen dari manusia. Nilai tersebut ditemukan sebagai hasil dari penalaran manusia dan pewahyuan supranatural. Fakta bahwa seseorang melakukan sesuatu yang benar ketika ia tahu dengan nalarnya bahwa itu benar, sebagaimana fakta bahwa hanya orang jahat atau yang lalai yang melakukan sesuatu berlawanan dengan kehendak atau wahyu Tuhan. Jadi dengan nalar atau peran Tuhan, seseorang menemukan nilai ultim, obyektif, absolut yang seharusnya mengarahkan perilakunya.

Ketiga, teori nilai alamiah (the naturalistik theory of value). Nilai menurutnya diciptakan manusia bersama dengan kebutuhan-kebutuhan dan hasrat-hasrat yang dialaminya. Nilai adalah produk biososial, artefak manusia, yang diciptakan, dipakai, diuji oleh individu dan masyarakat untuk melayani tujuan membimbing perilaku manusia. Pendekatan naturalis mencakup teori nilai instrumental dimana keputusan nilai tidak absolut atau ma’sum (infallible) tetapi bersifat relatif dan kontingen. Nilai secara umum hakikatnya bersifat subyektif, bergantung pada kondisi (kebutuhan/keinginan) manusia.

Keempat, teori nilai emotif (the emotive theory of value). Jika tiga aliran sebelumnya menentukan konsep nilai dengan status kognitifnya, maka teori ini memandang bahwa bahwa konsep moral dan etika bukanlah keputusan faktual tetapi hanya merupakan ekspresi emosi-emosi atau tingkah laku (attitude). Nilai tidak lebih dari suatu opini yang tidak bisa diverifikasi, sekalipun diakui bahwa penilaian (valuing) menjadi bagian penting dari tindakan manusia.

Kegunaan Aksiologi Terhadap Tujuan Ilmu Pengetahuan
Berkenaan dengan nilai guna ilmu, tak dapat dibantah lagi bahwa ilmu sangat bermanfaat bagi seluruh umat manusia, dengan ilmu sesorang dapat mengubah wajah dunia.

Berkaitan dengan hal ini, menurut Francis Bacon seperti yang dikutip oleh Jujun.S.Suriasumatri yaitu bahwa “pengetahuan adalah kekuasaan” apakah kekuasaan itu merupakan berkat atau justru malapetaka bagi umat manusia. Memang kalaupun terjadi malapetaka yang disebabkan oleh ilmu, bahwa kita tidak bisa mengatakan bahwa itu merupakan kesalahan ilmu, karena ilmu itu sendiri merupakan alat bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan hidupnya, lagi pula ilmu memiliki sifat netral, ilmu tidak mengenal baik ataupun buruk melainkan tergantung pada pemilik dalam menggunakannya.

Nilai kegunaan ilmu, untuk mengetahui kegunaan filsafat ilmu atau untuk apa filsafat ilmu itu digunakan, kita dapat memulainya dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, yaitu filsafat sebagai kumpulan teori digunakan memahami dan mereaksi dunia pemikiran.

Jika seseorang hendak ikut membentuk dunia atau ikut mendukung suatu ide yang membentuk suatu dunia, atau hendak menentang suatu sistem kebudayaan atau sistem ekonomi, atau sistem politik, maka sebaiknya mempelajari teori-teori filsafatnya. Inilah kegunaan mempelajari teori-teori filsafat ilmu; filsafat sebagai pandangan hidup.

Filsafat dalam posisi yang kedua ini semua teori ajarannya diterima kebenaranya dan dilaksanakan dalam kehidupan. Filsafat ilmu sebagai pandangan hidup gunanya ialah untuk petunjuk dalam menjalani kehidupan; Filsafat sebagai metodologi dalam memecahkan masalah.

Dalam hidup ini kita menghadapi banyak masalah. Bila ada batui didepan pintu, setiap keluar dari pintu itu kaki kita tersandung, maka batu itu masalah. Kehidupan akan dijalani lebih enak bila masalah masalah itu dapat diselesaikan. Ada banyak cara menyelesaikan masalah, mulai dari cara yang sederhana sampai yang paling rumit. Bila cara yang digunakan amat sederhana maka biasanya masalah tidak terselesaikan secara tuntas. Penyelesaian yang detail itu biasanya dapat mengungkap semua masalah yang berkembang dalam kehidupan manusia.

Penerapan Aksiologi dalam Pendidikan

Telah dijelaskan pada tulisan sebelumnya bahwa aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai yang ditinjau dari sudut kefilsafatan (Kattsoff, 1992:327)  atau studi tentang hakikat tertinggi, realitas, dan arti dari nilai-nilai (Sarwan, 1984:22). Penerapan aksiologi sebagai nilai-nilai dalam dunia pendidikan dapat dikemukakan sebagai berikut:

Aliran filsafat progressivisme telah memberikan sumbangan yang besar terhadap dunia pendidikan karena meletakkan dasar-dasar kemerdekaan, dan kebebasan kepada anak didik. Oleh karena itu, filsafat ini tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. Sebab pendidikan otoriter akan mematikan potensi pebelajar untuk mengembangkan potensinya.

Untuk itu pendidikan sebagai alat untuk memproses dan merekonstruksi kebudayaan baru yang memberikan warna dan corak dari kreasi yang dihasilkan dari situasi yang tercipta secara edukatif.

Setiap pebelajar mempunyai akal dan kecerdasan sebagai potensi yang dimilikinya yang berbeda dengan makhluk-makhluk lain. Potensi tersebut bersifat kreatif dan dinamis untuk memecahkan problema-problema yang dihadapinya.

Sekolah yang ideal adalah sekolah yang pelaksanaan pendidikannya terintegrasi dengan lingkungannya. Sekolah adalah bagian dari masyarakat, sehingga harus diupayakan pelestarian karakteristik lingkungan sekolah atau daerah tempat sekolah itu berada dengan prinsip learning by doing (belajar dengan berbuat). Tegasnya, sekolah bukan hanya berfungsi sebagai transfer of knowledge (pemindahan pengetahuan), melainkan juga sebagai transfer of value (pendidikan nilai-nilai) sehingga anak menjadi terampil dan berintelektual.

Aliran essensialisme berpandangan bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai budaya yang telah ada sejak awal peradaban manusia. Kebudayaan yang diwariskan kepada kita telah teruji oleh seluruh zaman, kondisi, dan sejarah. Kesalahan kebudayaan modern sekarang menurut aliran ini ialah cenderung menyimpang dari nilai-nilai yang diwariskan itu.

Esessialisme memandang bahwa seorang pebelajar memulai proses pendidikannya dengan memahami dirinya sendiri, kemudian bergerak keluar untuk memahami dunia objektif. Dari mikrokosmos menuju makrokosmos. Dengan landasan pemikiran tersebut, maka belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada dirinya sendiri.

Aliran perenialisme berpandangan bahwa pendidikan sangat dipengaruhi oleh pandangan tokoh-tokoh seperti Plato, Aristoteles, dan Thomas Aquinas. Menurut Plato manusia secara kodrati memiliki tiga potensi yaitu nafsu, kemauan, dan pikiran. Pendidikan hendaknya berorientasi pada potensi itu dan kepada masyarakat, agar kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat dapat terpenuhi. Sedangkan Aristoteles lebih menekankan pada dunia kenyataan. Tujuan pendidikan adalah kebahagian untuk mencapai tujuan itu, maka aspek jasmani, emosi dan intelektual harus dikembangkan secara seimbang. Menurut Robert Hutchkins manusia adalah animal rasionale, maka tujuan pendidikan adalah mengembangkan akal budi agar seseorang dapat hidup penuh kebijaksanaan demi kebaikan hidup itu sendiri.

Aliran rekonstruksionisme ingin merombak kebudayaan lama dan membangun kebudayaan baru melalui lembaga dan proses pendidikan. Perubahan ini dapat terwujud bila melalui usaha kerja sama semua umat manusia atau bangsa-bangsa. Masa depan umat manusia adalah suatu dunia yang diatur dan diperintah oleh rakyat secara demokratis, bukan dunia yang dikuasai oleh suatu golongan. Cita-cita demokrasi yang sebenarnya bukan hanya dalam teori melainkan harus menjadi kenyataan, dan terlaksana dalam praktik. Hanya dengan demikian dapat pula diwujudkan satu dunia yang dengan potensi-potensi teknologi mampu meningkatkan kesehatan, kesejahteraan, kemakmuran, keamanan, dan jaminan hukum bagi masyarakat, tanpa membedakan warna kulit, nasionalitas, kepercayaan, dan agama.

Pendidikan bertujuan untuk mewariskan nilai-nilai yang dipandang penting untuk pembinaan kepribadian seseorang. Implikasi dan nilai-nilai (aksiologi) di dalam pendidikan harus diintegrasikan secara utuh dalam kehidupan pendidikan secara praktis dan tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai yang meliputi kecerdasan, nilai-nilai ilmiah, nilai moral, dan nilai agama. Hal ini tersimpul di dalam tujuan pendidikan, yakin membawa kepribadian secara sempurna. Pengertian sempurna disini ditentukan oleh masing-masing pribadi, masyarakat, bangsa sesuai situasi dan kondisi.





Daftar Pustaka:
Ali, Hamdani. 1993. Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Kota Kembang

Bahtiar, Amsal. 2010. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT. RAJAGRAFINDO PERSADA

Depdiknas. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Endrotomo. 2004. Ilmu dan Teknologi. Information System ITS

Jalaluddin dan Abdullah Idi. 1997. Filsafat Pendidikan. Jakarta: Baya Madya Pratama

Kasttoff, Louis O. 1992. Element of Philosophy diterjemahkan oleh Soejono Soemargono dengan judul Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana

Mustansyir, Rizal. 2001. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Poedjawijatna. 2004. Tahu dan Pengetahuan. Jakarta: Rineka Cipta

Sahabuddin. 1997. Filsafat Pendidikan suatu Pengantar ke dalam Pemikiran, Pemahaman, dan Pengamalan Pendidikan Bersendikan Filsafat. Ujung Pandang. Program Pascasarjana IKIP

Salam, Burhanuddin. 1997. Logika Materil : Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Reneka Cipta

Salam, Burhanudin. 2000. Sejarah Filsafat Ilmu dan Teknologi. Jakarta: PT. RINEKA CIPTA

Soe, Soejono Margono. 1986. Pengantar Filsafat Louis O.Kattsoff. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya

Surajiyo. 2007. Filsafat Ilmu Dan Perkembanganya Di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara

Surajiyo. 2010. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara

Sumatriasumatri, Jujun S. 1988. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan

Suriasumantri, Jujun S. 1996. Filsafat Ilmu : sebuah pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

Tafsir, Ahmad. 2004. Filsafat Ilmu. Bandung: Remaja Rosdakarya