Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan

Undur-undur Itu Bisa Terbang

1
Undur-undur (Famili Myrmeleontidae)
Undur-undur (Famili Myrmeleontidae)

Undur-undur memiliki nama latin Myrmeleon formicarius. Kata Myrmeleon berasal dari dua kata bahasa Latin, yaitu mymex yang berarti semut dan leon yang berarti singa. Nama itu diberikan karena perilaku Undur-undur yang memburu mangsanya (khususnya semut) secara ganas dengan cara menggali jebakan di pasir, sehingga dianggap sebagai "singanya para semut". Sehingga dalam bahasa Inggris Undur-undur disebut dengan nama Antlion (semut singa).

Sedangkan nama lokalnya adalah Undur-undur. Nama Undur-undur diberikan pada hewan ini karena perilaku berjalan mundur saat membuat sarang sekaligus jebakan di pasir. Perilaku berjalan mundur pada Undur-undur tidak hanya saat membuat sarang dan jebakan saja, perilaku berjaan mundur ini juga berfungsi untuk melindungi dari serangan musuh serta memudahkan dalam menangkap mangsa.

Klasifikasi

Kingdom: Animalia
Filum: Arthropoda
Subfilum: Hexapoda
Kelas: Insecta
Subkelas: Pterygota
Infrakelas: Neoptera
Ordo: Neuroptera
Famili: Myrmeleontidae
Genus: Myrmeleon
Species: Myrmeleon formicarius

Anatomi

Undur-undur memiliki bentuk abdomen (perut) yang membulat, memiliki 3 pasang kaki, memiliki sepasang rahang panjang seperti capit, dan memiliki mulut tipe penggigit. Undur-undur hanya memiliki panjang beberapa milimeter saja.
Undur-undur (Myrmeleon formicarius)
Anatomi tubuh Undur-undur (Myrmeleon formicarius) tampak atas, tampak bawah, tampak samping

Fisiologi

Undur-undur tidak memiliki anus sehingga zat-zat sisa metabolisme akan disimpan dalam tubuh dan baru dikeluarkan ketika Undur-undur memasuki tahap Imago (dewasa).

Habitat

Undur-undur hidup di dalam tanah berpasir halus yang terlindung dari cahaya matahari langsung. Keberadaan Undur-undur dapat diketahui dari banyaknya lubang yang mereka buat sebagai sarang mereka.
Undur-undur (Myrmeleon formicarius)
Sarang Jebakan Undur-undur (Myrmeleon formicarius)

Makanan

Makanan Undur-undur adalah serangga-serangga kecil, terutama semut, yang terjebak dalam sarang jebakan yang dibuat. Undur-undur memakan mangsanya dengan cara menghisap cairan tubuh dari mangsanya dengan sepasang rahang yang berbentuk seperti capit, sementara bagian tubuhnya tidak dimakan.

Bisa Terbang

Undur-undur yang sering kita jumpai di sarang jebakan pasirnya itu bisa terbang. Secara anatomi tubuhnya, Undur-undur memang tidak bisa terbang. Tetapi, Undur-undur yang sering kita lihat itu adalah bentuk larvanya dan bisa bermetamorfosis secara sempurna, yang berarti dalam perkembangannya, Undur-undur mengalami perubahan bentuk fisik. Bentuk dewasa (imago) dari Undur-undur ini memiliki sayap dan bisa terbang. Tetapi, Undur-undur dewasa tidak bisa terbang cepat dan lincah karena pada dasarnya merupakan penerbang lemah.
Undur-undur dewasa (Myrmeleon formicarius)
Undur-undur dewasa (Myrmeleon formicarius)

Daur Hidup

Undur-undur adalah hewan Holometabola. Holometabola adalah serangga yang mengalami metamorfosis sempurna. Karena Undur-undur mengalami metamorfosis sempurna, maka Undur-undur memiliki empat tahap perkembangan, yaitu: telur, larva, pupa (kepompong), dan imago (dewasa). 
Undur-undur (Famili Myrmeleontidae)
Siklus Hidup Undur-undur (Famili Myrmeleontidae)

Telur
Telur Undur-undur umumnya diletakkan oleh induk di tanah berpasir halus atau berdebu. Tetapi, beberapa spesies Undur-undur bertelur di dedaun. Masa inkubasi telur Undur-undur ini sekitar 5 hari. Telur akan menetas dan berkembang menjadi larva yang sering kita lihat membuat sarang sekaligus jebakan di pasir.

Larva
Undur-undur menghabiskan hampir seluruh hidupnya sebagai larva. Tahap larva berlangsung antara 1 hingga 3 tahun.

Pada tahap larva, Undur-undur membuat jebakan di tanah dengan cara bergerak mundur memakai tubuhnya seperti mata bor dan mulai menggali dengan gerakan spiral hingga akhirnya membentuk sarang jebakannya yang berbentuk seperti corong.

Undur-undur berburu secara pasif dengan cara menunggu serangga lain, seperti semut, jatuh ke dalam sarang jebakannya. Bila ada mangsa terjebak masuk ke dalam perangkapnya namun masih bisa bergerak naik, larva undur-undur akan melempari mangsanya dengan butiran pasir agar tergelincir dan masuk dalam sarangnya. Larva undur-undur mengetahui kehadiran korbannya dengan cara merasakan getaran dari gerakan korbannya.

Undur-undur hanya akan menghisap cairan dari tubuh mangsanya dan membuang sisanya.

Pupa
Pupa disebut juga tahap kepompong. Undur-undur akan mengumpulkan butiran-butiran pasir dan dilekatkan dengan kelenjar yang berasal dari abdomennya (perutnya). Kepompong Undur-undur biasanya terkubur hingga beberapa sentimeter di dalam tanah. Pada tahap ini, Undur-undur tidak melakukan aktivitas, pada saat itu juga terjadi penyempurnaan dan pembentukan organ. Pupa atau kemompong Undur-undur berbentuk bola.

Tahap Pupa ini biasanya berlangsung sekitar 20 hari hingga 25 hari, terkadang bisa sampai 1 bulan.
Pupa Undur-undur (Myrmeleon formicarius)
Pupa Undur-undur (Myrmeleon formicarius)

Imago
Imago adalah tahap dewasa dimana Undur-undur sudah memiliki bentuk fisik yang sempurna setelah melewati metamorfosis.

Undur-undur dewasa memiliki penampilan fisik yang mirip dengan capung karena sama-sama memiliki abdomen panjang dan memiliki dua pasang sayap transparan berjala pada thoraxnya. Perbedaan yang paling mencolok antara Undur-undur dewasa dan capung adalah antenanya. Antena Undur-undur dewasa terlihat panjang dengan ujung sedikit melengkung.

Undur-undur dewasa lebih aktif saat malam hari (nokturnal). Makanan Undur-undur dewasa adalah nektar.

Tahap Imago adalah tahap reproduktif bagi Undur-undur. Undur-undur dewasa melakukan kopulasi dengan cara saling melekatkan ujung abdomennya. Undur-undur dewasa bisa melakukan kopulasi (kawin) hingga 2 jam. Setelah kopulasi, Undur-undur dewasa betina akan pergi mencari tempat untuk bertelur dan terkadang kembali ke tempat yang sama untuk kembali kawin.

Tahap Imago dari Undur-undur berlangsung antara 1 bulan hingga 45 hari.



Referensi:
Ade Arisandi. 2011. Siklus Hidup Undur Undur. diakses tanggal 6 September 2019. link: https://adearisandi.wordpress.com/2011/04/13/siklus-hidup-undur-undur/

Davide Badano. 2012. The Larvae of European Myrmeleontidae and Ascalaphidae (Neuroptera). Thesis. Tidak Diterbitkan. Scuola Di Dottorato Di Ricerca, Scienze e Biotecnologie dei Sistemi Agrari e Forestali e delle Produzioni Alimentari. Università Degli Studi Di Sassari: Italia.

Dharmawan, Agus. 2005. Ekologi Hewan. Malang: UM Press

Free Nature Images: http://www.freenatureimages.eu/Animals/Neuroptera%2C%20Netvleugeligen%2C%20Lacewings/Myrmeleon%20formicarius/index.html

Kawruh. 2008. Kehidupan Undur-undur. Bandung: PT. Gramedia Pustaka Utama

Kristanto. 2008. Hewan Darat. Surabaya: PT. Sentral Pujo

Noorchasanah Anastasia Wulandari. 2016. Masa Kecilmu Suka Main Undur-undur? Ternyata Hewan Mungil Ini Bisa Terbang dan Memiliki Khasiat. diakses tanggal 6 September 2019. link: https://solo.tribunnews.com/2016/06/01/masa-kecilmu-suka-main-undur-undur-ternyata-hewan-mungil-ini-bisa-terbang-dan-memiliki-khasiat?page=all.

Wikipedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Undur-undur

DNA Rekombinan dan Teknik-teknik yang Digunakan di Dalamnya

0
DNA Rekombinan dan Teknik-teknik yang Digunakan di Dalamnya
DNA Rekombinan dan Teknik-teknik yang Digunakan di Dalamnya

Sejak tahun 1970-an berkembang suatu teknologi yang dapat diterapkan sebagai pendekatan dalam mengatasi masalah melalui isolasi dan manipulasi terhadap gen yang bertanggung jawab atas ekspresi protein tertentu atau pembentukan suatu produk. Teknologi ini dikenal sebagai teknologi DNA rekombinan atau juga bisa disebut rekayasa genetika.

ini melibatkan upaya perbanyakan gen tertentu di dalam suatu sel yang bukan sel alaminya sehingga sering pula dikatakan sebagai kloning gen. Banyak definisi telah diberikan untuk mendeskripsikan pengertian teknologi DNA rekombinan. Salah satu di antaranya, yang mungkin paling representatif, menyebutkan bahwa teknologi DNA rekombinan adalah pembentukan kombinasi materi genetik yang baru dengan cara penyisipan molekul DNA ke dalam suatu vektor sehingga memungkinkannya untuk terintegrasi dan mengalami perbanyakan di dalam suatu sel organisme lain yang berperan sebagai sel inang.

Dengan kata lain teknologi DNA rekombinan memungkinkan bagi kita untuk mengisolasi DNA dari berbagai organisme, menggabungkan DNA yang berasal dari organisme yang berbeda sehingga terbentuk DNA rekombinan, memasukkan DNA rekombinan ke dalam sel organisme prokariot maupun eukariot hingga DNA rekombinan dapat berepilkasi dan bahkan dapat diekspresikan. Jadi, Teknologi DNA Rekombinan merupakan kumpulan teknik atau metoda yang digunakan untuk mengkombinasikan gen-gen di dalam tabung reaksi. Teknik-teknik tersebut meliputi: Teknik untuk mengisolasi DNA, Teknik untuk memotong DNA, Teknik untuk menggabung atau menyambung DNA, dan Teknik untuk memasukkan DNA ke dalam sel hidup.

Penerapan Bioteknologi dalam Bidang Peternakan

0
Selama kurang lebih empat dasawarsa terakhir, kita melihat begitu pesat perkembangan bioteknologi di berbagai bidang. Pesatnya perkembangan bioteknologi ini sejalan dengan tingkat kebutuhan manusia dimuka bumi. Hal ini dapat dipahami mengingat bioteknologi menjanjikan suatu revolusi pada hampir semua aspek kehidupan manusia, mulai dari bidang pertanian, peternakan dan perikanan hingga kesehatan dan pengobatan.

Di bidang peternakan dan perikanan, teknologi transgenik merupakan salah satu alternatif upaya peningkatan produksi untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat. Beberapa contoh penerapan bioteknologi dalam bidang peternakan, yaitu: Kloning, Inseminasi Buatan, Penggunaan Enzim Fitase, dan Transgenik Mikroinjeksi.

Keberhasilan Kloning pada Berbagai Spesies Hewan

0
Kloning merupakan salah satu bioteknologi mutakhir  yang sangat bermanfaat untuk memultiplikasi genotip hewan yang memiliki keunggulan tertentu dan preservasi hewan yang hampir punah. Walaupun keberhasilan produksi hewan kloning  lewat transfer inti sel somatik telah dicapai pada berbagai spesies, seperti Domba, Sapi, Mencit, Kambing, Babi, Kucing, dan Kelinci, efisiensinya sampai sekarang masih sangat rendah yaitu kurang dari 1%, dengan sekitar 10% yang lahir hidup (Han et al., 2003).

Transfer inti melibatkan suatu seri prosedur yang kompleks termasuk kultur sel donor, maturasi oosit in vitro,  enukleasi, injeksi sel atau inti, fusi, aktivasi, kultur in vitro reconstructed embryo, dan  transfer embrio. Jika salah satu dari tahap-tahap ini kurang optimal, produksi embrio atau  hewan kloning dapat terpengaruh.

Sejarah tentang hewan kloning telah muncul sejak awal tahun 1900, tetapi contoh  hewan kloning baru dapat dihasilkan lewat  penelitian Wilmut et al. (1997), dan untuk  pertama kali membuktikan bahwa kloning dapat dilakukan pada hewan mamalia dewasa. Hewan kloning tersebut dihasilkan dari inti sel epitel ambing Domba dewasa yang dikultur  dalam suatu medium, kemudian ditransfer ke dalam ovum Domba yang kromosomnya telah  dikeluarkan, yang pada akhirnya menghasilkan anak Domba kloning yang diberi nama Dolly.

Enzim Fitase dan Penggunaannya dalam Peternakan

0
Enzim Fitase dan Penggunaannya dalam Peternakan
Enzim Fitase dan Penggunaannya dalam Peternakan


Fitase adalah kelompok enzim fosfatase yang dapat memutus ikatan pada gugus orotfosfat pada rantai inositol senyawa fitat (bentuk utama senyawa fosfor di dalam tanaman). Berbagai jenis fitase telah berhasil diisolasi dari tanaman dan bakteri. Enzim-enzim ini kemudian dapat dikelopokkan berdasarkan pH optimumnya (asam dan basa), mekanisme katalitiknya (asam histidin fosfatase, beta-propeller fitase dan sistein fosfatase), berdasarkan stereospesifitasnya.

Fitase aktif asal mikroba banyak ditemukan pada spesies fungi dan aspergillus. Shieh dan Ware (1968), menyatakan bahwa hasil penyaringan pada isolat tanah terdapat lebih dari 2000 mikroorganisme yang mampu menghasilkan enzim fitase. Dari isolat tersebut kebanyakan memproduksi fitase intraselluler. Sedangkan 30 isolat adalah fitase ekstraselluler.Fitase terdapat di dalam tumbuh-tumbuhan, mikroorganisme dan jaringan tubuh ternak. The Enzym Nomenclature of The International Union of Biochemistry” menggolongkan fitase ke dalam dua tipe. Klasifikasi tersebut adalah 6 - fitase (EC 3.1.3.26) dan fitase 3 - fitase (EC 3.1.3.8). Fitase dalam saluran pencernaan berasal dari : 1). Fitase usus yang terdapat dalam saluran pencernaan, 2) fitase asal tumbuhan dan 3) fitase asal mikroba.