Skripsi, Cinta, dan Asisten Dosen

19 Februari 2011
penelitian skripsi saya sudah berada di tengah jalan dan tinggal beberapa langkah lagi saya akan hengkang dari dunia perkuliahan dan akan mengarungi samudera pekerjaan [amin]. Walaupun kadang skripsi menjadi terasa berat, tapi dukungan dari orang-orang terdekat mampu membangkitkan asa di dalam dada.

Skripsi, Cinta, dan Asisten Dosen
Skripsi, Cinta, dan Asisten Dosen


Tradisi Wisuda
Menurut tradisi dari dulu kala, seorang mahasiswa lulus dan kemudian wisuda itu merupakan hal yang wajar. Suatu kebanggaan dan harga diri muncul bila dalam wisuda terdapat [PW] PENDAMPING WISUDA. PW ini biasanya adalah sang kekasih hati. Tak dapat dipungkiri, kebanyakan mahasiswa akhir seperti saya [jomblo] mulai melancarkan serangan gerilya demi mendapatkan seorang PW. Bukan sebuah kemunafikan; saya memang mahasiswa akhir dan jomblo, tetapi saya tidak membuat target untuk mendapatkan PW kala wisuda tiba [tapi jika sudah ada, ya kagak nolak juga sih…]. Saya mengerti benar, bahwa cinta tidak seperti mie instan yang diseduh beberapa menit saja sudah siap dinikmati. Cinta itu perlu adanya sebuah proses, dimana kita bisa mengenal doi lebih dalam lagi dan juga sebaliknya.

Pernah saya ditanya oleh teman saya, wawan [bukan nama sebenarnya] yang memang satu angkatan dengan saya, tapi beda jurusan, “gimana stev, udah dapet calon belom?” saya jawab “belom wan, gue kagak ngasih target dapet PW… kalo belom ada, ya gue mesti sabar… kalo uda ada, ya Puji Tuhan deh…” tapi dalam hati, saya berkata “nih orang nyindir ato emang pengen tahu sih? Dia sih enak, udah ada PWnya… kalo gue? Jomblo deh…” dia langsung nyahut pembicaraan saya dengan menggebu-gebu “lho, bukane sudah tradisi, kalo udah skripsi nyari PW stev? Contohnya temen kita, Ian [bukan nama lengkapnya] dulu juga nyari PW… trus, mas hendrik [kakak tingkat kita] juga nyari PW sebelum wisuda…” entah mengapa, dia tiba-tiba menghentikan kata-katanya dan kemudian diam sejenak, lalu menyelesaikan kalimatnya dengan agak lesu “eh… tapi bener juga omonganmu stev, itu bukan hal yang mutlak sih…”

Entah mengapa, tapi seperti sudah tertanam di dalam otak saya bahwa pacaran itu adalah proses pengenalan terhadap lawan jenis yang kita cintai untu menuju ke arah jenjang yang lebih serius [pernikahan]. Saya berpendapat bahwa :


ketika saya mengambil keputusan untuk pacaran [dengan cewek tentunya], maka saya bersiap untuk menikah dengan dia [love is commitment]

jadi, prinsip PW yang dianut oleh kebanyakan kalangan mahasiswa, bisa dibilang tidak berlaku untuk saya. Kalau hanya ingin pendamping wisuda saja, saya bisa mengajak adik perempuan saya dan mungkin saya akan mengajak ibu saya [I love my Family], atau juga bisa sahabat dan teman-teman saya. Saat wisuda nanti [jika] sudah ada PW, besar harapan saya bahwa PW saya nanti adalah PH [Pendamping Hidup] saya.

Cinta dan skripsi
Saya adalah tipe orang yang hanya bisa fokus dalam satu hal saja, saya sangat sulit untuk melakukan peribahasa “besar pasak daripada tiang” eh, salah… maksud saya peribahasa yang ini “sambil menyelam minum air” dan “sekali dayung, dua sampai tiga pulau terlampaui”. Saat ini, yang menjadi fokus saya adalah skripsi.

Pengalaman sudah membuktikan bahwa saya tidak bisa focus dalam dua hal, terutama jika menyangkut tentang cinta. Dahulu kala, ketika saya masih semester 3, saya menjalin dengan seorang cewek manis berkacamata yang dulunya adalah adik kelas di SMA. Karena saat itu banyak sekali aktivitas dan tugas-tugas kampus yang tidak bisa ditinggalkan, entah mengapa saat itu dia memutuskan hubungan secara sepihak dan tidak membicarakannya terlebih dahulu. Di situ saya tidak terima, dimanakah janjimu dulu yang mengatakan bahwa “Love is commitment” itu? Segala macam usaha saya tempuh agar saya tahu alasan di balik semua itu; ternyata ada seekor keong racun jantan [padahal keong itu hermaprodit] yang sudah meracuni otaknya untuk meninggalkan saya dan menjadi pasangannya.
Bagi pria, sakit hati adalah sebuah pengalaman

Ketidakterimaan saya terhadap ironi cinta berbuah pahit. Kata bram, teman sekelas saya, waktu itu saya mulai menggila. Tugas-tugas yang seharusnya saya kerjakan malah saya telantarkan; ajakan bram untuk mengambil mata kulaih semester atas, saya tolak, padahal itu adalah kesempatan saya untuk mengurangi beban sks saya; mulai saat itu saya lebih sering maen dan kadang bolos kuliah; saya mewarnai rambut saya dengan warna ungu; dan yang lebih parahnya lagi IPK saya anjlok drastis. Okey, saya mengaku memang saya salah, tapi saya tidak menyesal.

Saya tidak akan menyesal atas kesalahan yang saya perbuat di masa lalu karena dengan kesalahan itu saya bisa memperbaiki kesalahan saya dengan tidak mengulangnya kembali di masa depan.

Okey, itulah pengalaman saya… life must go on…

Sekarang saya semester 8. Oke… saya akan membuat sebuah pengakuan; rasa mencintai seorang cewek muncul di dalam hati saya, dan saya tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyimpan dalam hati. Alasan utama saya diam saja [bahkan saat bertemu dengan dia] dan belum ”melakukan apa-apa” adalah ketakutan saya dalam menjalin hubungan di masa yang sangat sensitif, seperti masa yang saya alami sekarang, masa akhir kuliah; skripsi. Saya tidak mau mengulang masa ke”GILA”an saya sewaktu semester 3. Lebih baik saya berkonsentrasi dahulu dengan skripsi dan masa depan saya.

Setelah skripsi saya selesai dan tinggal menunggu wisuda; mungkin saat itulah saat yang tepat dimana saya harus sudah mengungkapkan isi hati saya kepada seorang wanita, bukan maksud untuk ngejar PW, tapi saat itu adalah saat dimana saya sudah akan meninggalkan dunia perkuliahan dan mungkin saya sudah jarang bisa bertemu dengan “dia”. Diterima atau ditolak, itu sudah resiko seorang pria.

Asisten Praktikum
Dosen pembimbing skripsi saya adalah salah satu dosen pengampu Mata Kuliah Ekologi Tumbuhan, dan menurut tradisi yang berlaku, setiap mahasiswa yang dibimbing oleh Dosen itu pasti harus dan wajib menjadi asisten praktikumnya. Senang sih, mendapatkan kepercayaan dari dosen, tapi kadang saya merasakan waktu saya dipotong oleh kegiatan ekotum ini. Waktu yang seharusnya saya gunakan untuk mengolah data skripsi, malah digunakan untuk kegiatan yang notabenenya bukan kegiatan saya. Saya ceritakan keluh kesah saya kepada mami tercinta, dan beliau memberikan nasihat yang begitu “WAW” hingga saya menyadari beruntungnya diriku. Kata ibu saya :
Jika diberikan tanggung jawab oleh orang lain, harus melakukannya dengan sungguh-sungguh, walaupun sekecil apapun

Keren banget, saya sadar bahwa tidak semua orang diberikan kepercayaan menjadi asisten praktikum karena bisa dibilang bahwa praktikum ekotum ini adalah praktikum yang cukup berat. Intinya saya bersyukur diberi kepercayaan tersebut. Trimakasih mami…

Dari perkataan ibu tercinta, saya mendapat banyak pelajaran. Walau ibu hanya mengatakan satu kalimat, tetapi banyak sekali pelajaran yang disampaikan secara tersirat. Ada satu pelajaran yang paling berkesan dari semua ini :
Mengucap syukurlah atas setiap keadaan yang kamu alami

Not need to know.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »